Diskusi kami dengan mahasiswa arsitektur (semester akhir) dibuka dengan kutipan yang, "Arsitek bukan hanya merancang bangunan, namun mereka juga merancang gaya hidup." EECCHI mengundang mahasiswa dari Universitas Bina Nusantara dan dosen mereka untuk mengunjungi Kantor Hemat Energi kami sehingga mereka dapat melihat langsung aplikasi desain hemat energi dan teknologi dalam bangunan. Tur di Kantor Hemat Energi kami terfokus pada fitur desain pasif dan aktif,yang membuat kami mampu menghemat energi lebih dari 40%. Indek Efisiensi Energi di Kantor Hemat Energi kami adalah sekitar 100 kWh/m2/year. Angka itu jauh di bawah rata-rata kantor di Jakarta yang berada di sekitar 250 kWh/m2/year, menurut Ahli Efisiensi Energi Bangunan kami, Bapak Totok Sulistiyanto, berdasarkan pengalaman lapangan beliau dan Panduan Teknis Konservasi Energi.
Para mahasiswa arsitektur ini sedang mencari inspirasi bagi proyek mereka yang berencana untuk merenovasi sebuah gedung di Jakarta yang merubahnya menjadi bangunan yang efisien energi. Desain pasif seperti double panel pada jendela kami, langit-langit yang ditinggikan, desain interior dan permukaan cermin reflektif memberikan inspirasi untuk biaya investasi efisiensi energi dari yang rendah hingga tinggi. Sedangkan desain aktif seperti AC split VRV kami, pencahayaan hemat energi dan sensor gerak menunjukkan bagaimana teknologi dapat menghemat energi.
Tapi salah satu poin yang paling penting yang dibahas adalah bagaimana perilaku seringkali lebih penting daripada teknologi dan desain. Sebuah bangunan yang efisien energi tidak dapat optimal jika perilaku buruk seperti penggunaan listrik yang boros tetap ada. Di sinilah peran arsitek karena desain bangunan mereka menentukan gaya hidup penggunanya. Hal yang sederhana berpengaruh besar, misalnya dimana menempatkan tombol lampu dan outlet listrik. Jika mereka sulit dijangkau, akan sulit untuk meminta orang memetikan lampu ketika mereka meninggalkan ruangan atau mencabut kabel alat elektronik yang tidak terpakai.
Merancang bangunan dengan banyak ruang terbuka untuk sinar matahari dan ventilasi alami tidak hanya menghemat biaya energi, tetapi juga lebih sehat bagi penghuni. Studi oleh Heschone Mahong Grup menunjukkan bahwa sinar matahari dapat meningkatkan keterampilan membaca dan berhitung hingga 26%. Sementara Kador Group Australia memperkirakan bahwa keluhan flu dan mudah lelah berkurang 70% dalam sebuah bangunan yang efisien energi, dibandingkan dengan bangunan yang tidak efisien energi.
Jadi kami berharap kunjungan ini mampu menginspirasi arsitek masa depan Indonesia! Untuk mengunnjungi kantor kami dan belajar lebih banyak tentang efisiensi energi di gedung-gedung, silahkan hubungi kami di info.eecchi@gmail.com.
Tags: universities, universitas, arsitektur, Kantor Hemat Energi, desain efisiensi energi
Komentar