Indikator energi dapat dilihat dari elastisitas energi dan intensitas energi.
Elastisitas energi adalah perbandingan antara laju pertumbuhan konsumsi energi dengan laju pertumbuhan ekonomi. Semakin kecil angka elastisitas, maka semakin efisien penggunaan energi di suatu negara. Elastisitas energi Indonesia pada tahun 2009 masih cukup tinggi yaitu 2,69. Sebagai perbandingan, menurut penelitian International Energy Agency pada tahun 2009, angka elastisitas Thailand adalah 1,4, Singapura 1,1 dan negara-negara maju berkisar dari 0,1 – 0,6.
Intensitas energi adalah perbandingan antara jumlah konsumsi energi per Produksi Domestik Bruto (PDB). Semakin rendah angka intensitas, maka semakin efisien penggunaan energi di sebuah negara. Intensitas energi primer Indonesia pada tahun 2009 adalah sebesar 565 TOE (ton-oil-equivalent) per 1 juta USD. Artinya, untuk meningkatkan PDB sebesar 1 juta USD, Indonesia memerlukan energi sebanyak 565 TOE. Sebagai perbandingan, intensitas energi Malaysia adalah 439 TOE/juta USD dan rata-rata intensitas energi negara maju dalam OECD (Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan) hanyalah 164 TOE/juta USD.
Angka elastisitas dan intensitas energi di atas,menunjukkan bahwa pemakaian energi di Indonesia masih belum efisien.
Berikut contoh perbandingan intensitas energi di Indonesia dan negara lain dalam sub-sektor bangunan gedung.