
Walaupun permintaan energi di sektor komersial hanyalah 4% dari total permintaan energi nasional, efisiensi energi pada sektor ini tetap menjadi prioritas. Tipe-tipe gedung komersial yang menggunakan banyak energi meliputi perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel dan rumah sakit. Umumnya energi yang digunakan oleh gedung komersial adalah untuk pengaturan suhu dan pencahayaan. Potensi penghematan yang dapat dicapai tentunya bergantung pada besarnya investasi perubahan yang dilakukan pada gedung.
Langkah-langkah peningkatan efisiensi energi pada sektor bangunan gedung dapat dibedakan dalam dua kategori, yaitu:
1. Gedung yang Sudah Ada (Existing Buildings)
Bagi gedung yang sudah ada, peningkatan efisiensi energi tercapai melalui peningkatan performa gedung. Untuk mengetahui langkah-langkahnya, perlu dilakukan audit energi yang meliputi identifikasi dan analisis secara keseluruhan masalah-masalah efisiensi energi pada gedung seperti sistem operasional HVAC (Heating, Ventilating and Air Conditioning), tingkat kenyamanan dan pemeliharaan gedung. Langkah-langkah yang biasanya diterapkan adalah retrofitting pada bangunan gedung, upgrade teknologi peralatan dan pembiasaan perilaku hemat energi bagi para penghuni gedung.
2. Gedung Baru (New Buildings)
Gedung baru memiliki lebih banyak kesempatan untuk menghemat energi dibandingkan gedung yang sudah terbangun jika efisiensi energi telah dipertimbangkan sejak awal merancang gedung. Standar-standar Nasional Indonesia yang berhubungan dengan konservasi energi pada bangunan gedung (sistem pencahayaan, sistem tata udara dan selubung gedung) harus diterapkan pada saat merancang bangunan.
Gedung dengan selubung (dinding luar, jendela, atap dan lantai) yang lebih rapat tentunya akan lebih hemat energi. Sama halnya dengan insulasi gedung yang dapat mengurangi konduksi panas melalui dinding-dinding luar. Memperbaiki efisiensi selubung gedung adalah proses yang rendah biaya namun menjanjikan keuntungan yang tinggi melalui penghematan energi.